Siswa SD Jalan Kaki 6 Km Lewat Bukit TandusAmlapura (Bali Post) -
Sedikitnya 70 KK warga di wilayah Bukit Suwung, Lebah dan Gigit
Gulinten, Karangasem sampai kini masih terisolasi, tinggal di daerah
terpencil. Selain jauh dan sulitnya menjangkau fasilitas umum seperti
pasar dan puskesmas, puluhan anak-anak SD mesti berjalan kaki 6 km PP
menuju SDN 3 Purwakerti di Amed.
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Tani Satya Darma Wayan Wirdana, Rabu
(17/10) kemarin di Lebah, Karangasem. Dia mengatakan, warga di atas
perbukitan tandus di Suwung dan Gulinten, sejak dulu mendambakan ada
jalan yang paling tidak bisa dilewati sepeda motor atau mobil. Karena
itu, warga berswadaya membebaskan lahan. Dari sekitar 3 km, jalan menuju
ke Bukit Suwung dan Gigit, warga baru bisa membuat badan jalan
sepanjang 1,5 km. Sementara 1,5 km lagi medan gotong-royong sangat
berat, karena berupa lereng batu berbukit. Warga juga tak berani
membongkar lereng bukit dengan cangkul, panyong dan alat kerja tangan.
Soalnya, khawatir lereng bukit longsor.
Warga melalui ketua kelompok membuat surat permohonan peminjaman alat
berat loder kepada Ketua Bappeda Wayan Arta Dipa dan Kadis PU. Pengajuan
surat sudah Agustus 2011. Namun kata Wirdana, sampai kini belum ada
tanggapan. ''Kami satu kali menghadap Kepala Bappeda dan sudah tiga kali
ke dinas PU. Namun sampai kini belum ada jawaban apakah akan diberi
meminjam loder itu,'' katanya.
Dia juga mengatakan, pihak Bappeda dan dinas PU juga menjanjikan lokasi
jalur pembongkaran badan jalan itu disurvei tahun 2011, bahkan
tanggalnya sudah ditentukan. Namun sudah ditunggu tiga minggu dari
jadwal, ternyata juga tak ada tim survei dari Pemkab Karangaem.
Sementara, saat menghadap pejabat hendak meminjam alat berat itu,
dikatakan alat berat itu dipakai bekerja di lapangan di Besakih. Bahkan
sampai kini belum ada jawaban, apakah kami akan diberikan meminjam alat
berat yang kami dambakan itu,'' katanya.
Wirdana didampingi warga lainnya kemarin mengatakan, sangat menyayangkan
sampai kini permukiman penduduk di Suwung dan Gigit masih terisolasi.
Warga pun sangat sulit menjangkau fasilitas umum. Di mana, warga kalau
berbelanja mesti ke pasar Mangsul, misalnya untuk membeli bibit ternak
babi atau membawa barang dagangan. ''Kasihan anak-anak kami ke SD 3
Purwakerti di Amed berjalan kaki sampai 6 km PP. Persoalannya, saat
musim kemarau jalur yang dilewati sangat berat di perbukitan tandus
dengan panas terik. Sementara pada saat musim hujan rawan banjir dan
petir. Syukur mereka sudah mau ke sekolah,'' ujar Wardana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar